Obat Golongan G Tidak Dapat Dijual Bebas, Warga Khawatir Jalur Puncak Dijadikan Tempat Transaksi

oleh -45 Dilihat
Ilustrasi Obat-obatan. (Pixabay/istimewa).

BOGORTERKINI.COM – Penyalahgunaan obat Golongan G (Gevaarlijk) seperti Tramadol, Hexymer dan Trihexyphenidyl, dikalangan generasi milenial, layak menjadi tanggung jawab bersama antara Pemerintah dan Masyarakat.

Dampak dari salah konsumsi obat-obatan tersebut akan merusak generasi bangsa.

Terlebih Indonesia akan masuk pada momentum bersejarah, yakni memilki generasi emas 2045, tepat pada satu abad kemerdekaan.

[related by="category" jumlah="2" mulaipos="1"]

Semua itu harus dipersiapkan dari sekarang, jika para pemuda seolah dibiarkan ‘lepas’ menyalahgunakan obat-obatan, bisa ditebak apa yang akan terjadi?, dan bagai mana jika hal tersebut terjadi pada anak, saudara ataupun keluarga besar kita?.

Salah satu penyebabnya adalah obat yang dikategorikan sebagai golongan G diduga bisa mudah didapat tanpa resep dokter, bahkan terkesan dijual bebas.

Maka patutlah kiranya jika peredaran obat jenis tersebut mendapat pengawasan yang ekstra ketat dari instansi ataupun pihak yang berwenang.

[related by="category" jumlah="2" mulaipos="3"]

Hal tersebut dikatakan Iman Sukarya Selaku Ketua Lembaga Sosial Masyarakat – Ikatan Komunitas Kawasan Puncak dan Sekitarnya (LSM- IKKPAS). Rabu (14/03/2023).

Untuk itu, dia meminta kepada pihak terkait agar mengawasi penjualan obat golongan G di kawasan jalur Puncak, agar tidak dijual bebas dan harus menggunakan resep dokter.

“Selaku masyarakat Wilayah Puncak , kami meminta pada Camat Cisarua, Polsek Cisrua, Camat Megamendung, Polsek Megamendung, untuk melakukan tindakan tegas.

[related by="category" jumlah="2" mulaipos="5"]

Agar menutup warung -warung jika ada yang menjual obat golongan G dengan bebas,”harapnya.

Iman juga menegaskan, jika memang ada yang terbukti menjual harus diberikan sanksi yang berat, karena jelas -jelas yang mereka lakukan adalah merusak generasi Indonesia.

“Bila perlu suruh menelan sendiri Obat -obatan itu, sebanyak yang dijualnya.” kelakar Iman.

[related by="category" jumlah="2" mulaipos="7"]

Sebelumnya, Samsul Bahri Ketua Badan Advokasi Indonesia (BAI) Kabupaten Bogor menyampaikan, sebagai informasi yang harus diketahui masyarakat, jenis itu termasuk Obat keras.

“Obat yang termasuk dalam golongan daftar G ini merupakan golongan obat yang apabila dalam penggunaannya tidak dalam pengawasan dokter, atau pembeliannya tanpa menggunakan resep dokter, berarti dalam penggunaannya obat keras tersebut seakan-akan tidak terkendali,” Katanya kepada wartawan. Senin (13/ 03/2923).

Sehingga, sambung dia, khasiat dari obat yang seharusnya menyembuhkan, dikhawatirkan akan meracuni tubuh atau bahkan dapat menyebabkan kematian.

[related by="category" jumlah="2" mulaipos="9"]

“Apotek adalah salah satu sarana pelayanan kesehatan dalam bidang sediaan farmasi, yang dapat menyimpan serta melayani pembelian obat keras dengan resep dokter,”. ujarnya.

Warga Puncak itu pun menjelaskan, Sedangkan toko obat dalam Pasal 1 Peraturan Menteri Kesehatan Nomor : 167/Kab/B.VII/1972 tentang Pedagang Eceran Obat yang telah diubah menjadi Keputusan Menteri Kesehatan Nomor: 1331/MENKES/SK/X/2002 hanya diperbolehkan untuk menyimpan obat-obat bebas dan obat-obat bebas terbatas.(iwan/ash)***

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Terkini Media Network (TMN) mendukung program manajemen reputasi melalui publikasi press release, content placement, dan iklan. Untuk kerja sama, hubungi: 08531-5557788

No More Posts Available.

No more pages to load.